Showing posts with label sepeda. Show all posts
Showing posts with label sepeda. Show all posts
Saturday, September 28, 2013
Tuesday, March 26, 2013
Gw dan Sepeda
Ga terasa oktober 2010 adalah pertama kali gw beli sepeda lipat wim cycle pocket rocket. Walau sudah memiliki sepeda seminggu sebelumnya, namun hampir saja saya membatalkan untuk bersepeda ke kantor.
Awal ceritanya gini, saat itu saya masih menggunakan motor atau mobil. Keruwetan jalanan jakarta membuat saya tidak tahan dan mencoba untuk beralih ke sepeda. Dengan tekad yg bulat saya mencoba untuk melatif fisik dan mental. Selama seminggu weekday (sepeda beli minggu) besoknya stp plg kantor pake motor, begitu nyampe rumah langsung tancap gowes mencoba kembali kekantor sampe sejauh mana bisa kuat. Ternyata hari pertama saja jantung, mata serasa mau keluar mecotot.pala puyeng leng-lengan, paha dah keram kejang-kejang. Tidak berputus asa esoknya masih dicoba lagi. Nyampe rumah jam 5 sore langsung caw pake sepeda. Kali ini lebih baik namun tetap saja masih jauh dari harapan. 6 hari mencoba tidak ada perubahan yg berarti. 6 hari mencoba tidak ada yang sampai kantor. Saat itu saya putuskan bike to work dari rumah saya, kejauhan dan ga make sense buat saya. Sabtu minggu berlalu sepeda hanya jadi onggokan besi.
Senin masuk kantor pake motor seperti biasa. Dan tiba-tiba melihat sepeda terlipat rapih di cubicle teman. Dia baru beli hari minggunya dan langsung dipake b2w dari ciputat! Jreng! Jreng! Ngehajar kesadaran gw langsung didepan muka gw! Panas ga terima dibilang cuma Omdo! Besoknya langsung b2w tanpa pikir2 panjang lagi. Ga terasa berkat provokasi teman satu itu kebiasaan ini bertahan hingga sekarang Maret 26, 2013. Ga terasa sudah 30 bulan, 2 tahun 6 bulan.
Awal ceritanya gini, saat itu saya masih menggunakan motor atau mobil. Keruwetan jalanan jakarta membuat saya tidak tahan dan mencoba untuk beralih ke sepeda. Dengan tekad yg bulat saya mencoba untuk melatif fisik dan mental. Selama seminggu weekday (sepeda beli minggu) besoknya stp plg kantor pake motor, begitu nyampe rumah langsung tancap gowes mencoba kembali kekantor sampe sejauh mana bisa kuat. Ternyata hari pertama saja jantung, mata serasa mau keluar mecotot.pala puyeng leng-lengan, paha dah keram kejang-kejang. Tidak berputus asa esoknya masih dicoba lagi. Nyampe rumah jam 5 sore langsung caw pake sepeda. Kali ini lebih baik namun tetap saja masih jauh dari harapan. 6 hari mencoba tidak ada perubahan yg berarti. 6 hari mencoba tidak ada yang sampai kantor. Saat itu saya putuskan bike to work dari rumah saya, kejauhan dan ga make sense buat saya. Sabtu minggu berlalu sepeda hanya jadi onggokan besi.
Senin masuk kantor pake motor seperti biasa. Dan tiba-tiba melihat sepeda terlipat rapih di cubicle teman. Dia baru beli hari minggunya dan langsung dipake b2w dari ciputat! Jreng! Jreng! Ngehajar kesadaran gw langsung didepan muka gw! Panas ga terima dibilang cuma Omdo! Besoknya langsung b2w tanpa pikir2 panjang lagi. Ga terasa berkat provokasi teman satu itu kebiasaan ini bertahan hingga sekarang Maret 26, 2013. Ga terasa sudah 30 bulan, 2 tahun 6 bulan.
Tuesday, November 13, 2012
Bike to Work dan Goggle V
Tiga tahun yang lalu saya memandang para pekerja bersepeda ini dengan sebelah mata. Masih teringat saya sering melihat @misterphai lewat halte dengan mendorong sepeda lipat miliknya setiap paginya berbarengan dengan saya yang abis dari parkiran motor. Atau melihat para b2w’ers yang lewat depan saya saat saya nungguin martabak mateng di martabak 999 joglo malam hari.
Kesan saya saat itu "lucu amat yah apparelnya, seperti Goggle V gitu, pake helm, pake sarung tangan, pake jersey, celana ketat, kaca mata, masker, siap jadi super hero". Jauh dari bayangan saya tentang orang kerja kantoran.
Saturday, November 03, 2012
Bagaimana kalau motor dilarang?
diambil dari profil picture twitter @b2windonesia
Saya bukan benci dengan motor, saya hanya benci dengan
prilaku pengendara motor yang suka seenaknya di jalanan. Pasti anda berpikir
“Ah kan ga semua pengendara motor seperti itu...”. Dulu juga saya pengendara
motor. Dulu juga saya berpikir seperti itu. Tapi coba kita berhenti sejenak,
dan melihat lagi dengan jujur kedalam hati kita. Apakah benar masih seperti
itu?
Saya merasa menjadi minoritas pada saat saya mematuhi aturan
lalu lintas, mulai dari dikloaksonin, dimaki, ditabrak, disenggol dan masih
banyak lagi. Kalau ditekan seperti itu terus-menerus lama-kelamaan seseorang
akan berubah juga. Sebelum saya terpengaruh dan berubah, saya mengambil langkah
drastis. Saya memilih untuk naik sepeda.
Sekedar info, ini diambil dari http://www.worldlifeexpectancy.com/country-health-profile/indonesia. Kematian akibat kecelakaan kendaraan bermotor mencapai
48,074 pertahunnya (data tahun 2010) yang artinya 134 orang meninggal
perharinya akibat kecelakaan bermotor, dan menurut Prof. Dr. Danang Parikesit,
Senior Researcher Transport Planning And Financing Universitas Gajah Mada (UGM)
Yogyakarta, di http://www.jddc-online.com/?p=51
70 persennya adalah akibat sepeda motor.
Menurut saya ini sudah parah. Harus ada suatu perubahan,
harus ada tindakan yang tegas, harus ada suatu terobosan. Jika dibiarkan ini
hanya akan memperparah. Aturan sudah ada hanya saja pelaksanaannya yang belum tegas.
Subscribe to:
Posts (Atom)















































