Saturday, April 02, 2016

Camping IV : Gunung Bunder Again But Another Campsite

Lima belas Mei dua ribu lima belas, waktu menunjukkan sudah pukul 12 siang dan hujan pun tidak memperlihatkan tanda-tanda akan berhenti. Sejak pukul 10 pagi ini kami disini. Berputar-putar mencari tempat yang cukup enak, banyak pohon dan sepi untuk berkemah. Namun sepertinya itu sia-sia. Weekend kali ini tampak rombongan club-club motor dan anak-anak sekolah bahkan beberapa perkumpulan pemuda-pemuda dari salah satu partai politik juga ingin menikmati dinginnya Gunung Bunder. Memang lokasi ini terkenal sangat ramai pada akhir pekan. Mulai dari yang sekedar piknik, berkemah, hingga shooting film/sinetron. Akhirnya kami menyerah dan berhenti di parkiran dekat orang yang sedang shooting Sinetron Arjuna.

Sudah habis dua bungkus nasi padang dan hujan pun masih deras. Sudah jauh-jauh datang ke tempat ini, rasanya pantang bagi saya untuk pulang kembali. Akhirnya dengan bermodalkan payung saya dirikan tarp kuning. Satu-persatu mulai dipasang. Setelah itu tenda, kemudian tarp hitam. Akhirnya para hammock pun bertengger di pohonnya masing-masing.

Camping kali ini berlokasi di kawasan konservasi Taman Nasional Gunung Halimun Salak Desa Gunung Bunder II, tidak berapa jauh dari lokasi sebelumnya Curug Cihurang. Jika anda kesini melalui Ciampea, anda akan menemui gerbang, kemudian setelah gerbang tepat disebelah kiri anda akan terlihat deretan pohon pinus yang cukup rapat ditanah lapang. Itulah bumi perkemahannya. Kami mendirikan tenda di bagian atas punggungan yang cukup tinggi.




First Gate (Google streetview)


Ticketting Gate (Google streetview)

Walau diwarnai dengan hujan yang tiada henti, air yang masuk ke tenda baik rembesan dari bawah maupun dari samping tenda, camping kali ini tetap berkesan. Pemilihan campsite yang tidak mudah yang membuat kami harus berkompromi. Namun semua itu terbayarkan saat melihat-lihat di sekitar perkemahan menikmati keindahan alam Desa Gunung Bunder. Kali ini juga merupakan pengalaman pertama saya tidur bermalam diatas hammock semalaman penuh. Sayangnya keindahan itu sedikit dicederai oleh perlakuan para kru sinetron yang merusak alam dengan membuang sampah nasi bungkus sembarangan di area kawasan ini. Bahkan sempat teramati tumpahan solar dan oli dari mesin diesel mereka. Belum lagi suara mesin diesel yang cukup mengganggu kami menikmati suasana alam yang hening.

Parkiran
Sangat luas dan cukup dekat dengan lokasi perkemahan. Anda tidak akan direpotkan dengan berjalan jauh-jauh dari lokasi parkiran menuju tenda. Bahkan kami masih bias melihat posisi mobil kami dari tenda.

MCK
Sangat buruk, tidak terawat, Kemungkinan disebabkan air yang tidak mengalir terus menerus dan membludaknya pengguna akibat aktivitas pengambilan gambar sinetron Arjuna. Tidak hanya digunakan olah para kru namun juga digunakan oleh para pengunjung yang ingin melihat artis idola mereka.

Biaya
Kami hanya membayar biaya masuk.

Mushola
Terdapat mushola yang cukup baik sebenarnya, sayangnya pada saat kami kesana, mungkin karena mck yang tidak memadai jadi teramati sepertinya ada yang buang air kecil di area berwudlu. Sangat disayangkan.

Sampah
Sama seperti camping-camping sebelumnya, pengelolaan sampah masih kurang, hanya dikumpulkan dan dibakar. Sepertinya bawa kembali sampahmu masih belum menjadi budaya atau kewajiban. Tidak seperti di jalur pendakian yang cukup ketat aturanya.

Jalan menuju lokasi
Jalannya cukup baik, sudah aspal walau banyak berlubang. Saat berbelok masuk parkiran berubah menjadi jalanan berbatu namun masih oke untuk dilalui. Teramati beberapa mobil sedan parkir disini. Mungkin milik para artis sinetron.


Jalan masuk parkiran sedikit berbatu (Google streetview)


Convenient store/warung
Terdapat beberapa warung dibagian dalam di pinggiran lokasi perkemahan di pinggir tebing, sehingga memiliki pemandangan yang indah. Sayangnya warung ini tidak buka setiap saat, hanya buka saat ramai saja. Namun jangan khawatir setiap pagi dan sore hari akan ada Ibu-Ibu yang menjajakan jajananya mengunjungi setiap tenda yang ada (dengan sedikit memaksa, hehehe…). Selain itu kurang dari satu kilometer dari gerbang anda sudah bisa menemukan convenient store (Alfam*rt/Indom*rt).

Interesting site
Tidak ada site khusus yang menarik selain tempat perkemahan itu sendiri. Deretan pohon pinusnya cukup rapat menarik untuk dijadikan tempat foto-foto. Terdapat sungai kecil dimana anak kecil dapat bermain-main air disini. Namun harus tetap waspada dari pacet.

Enjoy The Photos! Just click it to enlarge.

Wednesday, April 22, 2015

Camping III : Curug Cihurang

Berselang lima bulan dari terakhir kali kami sekeluarga camping ke Curug Panjang, pada tanggal 11-12 April 2015 kemarin akhirnya kami kembali camping ke alam terbuka. Tujuan camping kali ini adalah Curug Cihurang, Desa Gunung Bunder II, Kecamatan Pamijahan, Bogor, Jawa Barat. Alasan pemilihan tempat ini adalah pengen bisa camping ke alam sekalian bisa berenang-berenang main air.



Bulan Juli tahun 2014 lalu, telinga Ifa di operasi dan dipasangi gromet. Imbas dari operasi telinganya, dokter melarang dia untuk berenang selama 6 bulan hingga 1 tahun (paling lama). Baru-baru ini saja telinganya sudah sembuh. Kini hampir setiap akhir minggu kita pergi berenang.

Curug cihurang adalah salah satu air terjun yang terletak di kawasan taman nasional Gunung Halimun-Salak, Desa Gunung Bunder II, Kecamatan Pamijahan, Bogor, Jawa Barat. Selain curug cihurang, dikawasan ini masih terdapat curug lainya seperti, curug seribu, curug cigamea, curug ngumpet 1 dan 2, curug pangeran dan curug-curug lainnya. Curug Cihurang merupakan air terjun vertikal setinggi +/- 5 meter dengan aliran yang sedang. Di bawah air terjun ini terdapat dua kolam alami yang satu sedalam +/- 75cm dan satu lagi hanya kolam dangkal untuk bermain anak2 berbentuk melingkar. Airnya berasal dari DAS (Daerah Aliran Sungai) Lembah Gunung Salak.

Tidak semua curug-curug di Desa Gunung Bunder 2 ini memiliki camping ground. Setidaknya terdapat tiga camping ground lainnya selain camping ground Curug Cihurang yang saya ketahui. Pertama adalah camping ground di Bumi Perkemahan Gunung Bunder (konon katanya ada fasilitas outbond), Kedua camping ground di Kawah Ratu. Ketiga camping ground di Curug Ngumpet 1. Selain itu saya yakin masih banyak tempat lainnya yang bisa dijadikan tempat berkemah.



Kami berangkat dari Kreo, Larangan, Tangerang, sekitar Jam 6 pagi melalui tol lingkar luar menuju tol jagorawi. Dari tol jagorawi kami keluar di exit tol sentul. Kemudian belok kanan masuk pintu tol Lingkar Bogor. Setelah masuk tol Lingkar Bogor kami teruskan mengemudi hingga sampai diujung tol dan keluar, terus menuju IPB, Dramaga. Setelah ketemu pertigaan jalan Bojong Rangkas – Cicadas belok kiri. Ikuti saja jalan utama sampai ke depan Gerbang Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak. Sesampainya di gerbang, kami membayar retribusi sebesar 25,000 untuk satu mobil, 2 org dewasa dan 1 anak-anak. Tidak berapa jauh dari gerbang ini di sebelah kiri akan terlihat Bumi Perkemahan Gunung Bunder. Kami terus kan perjalanan menuju Curug Cihurang, hingga akhirnya sampailah kami di Camping Ground Curug Cihurang sekitar jam 09.00 pagi.



Setibanya kami di camping ground, saya langsung disambut petugas setempat dan diajak berkeliling untuk emlihat-lihat dan memilih tempat berkemah. Cukup banyak tempat yang bisa dipilih hanya saja saat yang bersamaan terdapat sekelompok anak pramuka dari SMA serta sekelompok anak-anak dari sekolah asrama yang juga sedang melakukan kegiatan berkemah disini dengan menggunakan tenda pleton TNI/Polisi. Kami memilih tempat yang masih rindang dan banyak pinusnya dengan pertimabangan memudahkan kami dalam memasang hummock. Akhirnya kami memilih tempat yang tidak beberapa jauh di belakang Pos Penjagaan. Di depan tenda kami terdapat deretan kursi-kursi bambu membentang sangat memudahkan kami untuk duduk-duduk santai disekitar perkemahan.



Setelah mendirikan tenda dan memasang hummock serta membereskan barang-barang, kami pun membayar biaya sewa tempat untuk berkemah sebesar Rp 45,000 untuk kami sekeluarga. Relatif lebih murah daripada dua tempat kami sebelumnya yang dihitung perkepala.

Setelah itu kami sekeluarga berangkat menuju curug untuk berenang dan bermain air. Curug ini letaknya sangat dekat dari tempat kami berkemah. Selesai berenang dan foto-foto kami kembali ke tenda untuk makan siang. Makan siang kali ini ditemani dengan Nasi, telur dadar dan spring rol buatan Mama Ifa.



Setelah itu kamipun bersantai-santai diatas hummock dan didalam tenda. Tidak berapa lama hujan pun turun sekitar jam tiga sore. Kami pun segera membereskan barang2 yang berada diluar tenda dan masuk kedalam tenda. Dari dalam tenda seru sekali melihat kakak-kakak pramuka yang sedang “bermain” hujan-hujanan di luar bersama kakak-kakak seniornya. Kamipun bermain tetes-tetes air yang menempel pada flysheet kami.



Setelah hujan reda kami lanjutkan dengan hiking sore disekitar perkemahan. Berjalan-jalan diantara hutan pinus dan momotret sunset.



Setelah puas berjalan-jalan sekitar perkemahan, kami kembali ke tenda untuk mempersiapkan makan malam. Kali ini kami makan malam dengan creamsoup, keripik happy toss, risoles dan spring roll buatan mama Ifa. Seru sekali menyiapkan makan malam bersama-sama ditengah gunung seperti ini. Ifa pun senang sekali bermain-main dengan senter-kepala miliknya.



Setelah makan malam kamipun kembali bersantai-santai didepan perkemahan sambil menikmati minuman hangat kopi atau teh. Menatap bintang dan bercerita bersama Ifa. Setelah puas ngobrol-ngobrol santai, kamipun tidur. Seperti biasa Ifa tidak pernah bermasalah dengan tidur saat berkemah. Ia selalu tahan dengan keadaan dingin. Tidurnya pun kadang melintang seperti layaknya di rumah, merasa nyaman sekali. Ia juga tidak mau diselimutin atau dipasangkan sleeping bag.

Pagi hari saya langsung menuju spot bagus untuk foto sunrise yang sudah kami survei kemarin saat jalan-jalan disekitar perkemahan. Sesampainya disana ternyata telat kesiangan, akhirnya ga dapet foto yang bagus untuk sunrise. Mengobati kekecewaan kembali ke air terjun. Air terjun ini serasa milik sendiri, karena pagi hari sepi tidak ada orang selain kami. Siang hari air terjun ini dipenuhi pengunjung yang datang untuk sekedar piknik. Pagi ini Ifa pun cuek saja bertelanjang bulat bermain air dan berenang di air terjun ini.



Setelah puas berenang, foto-foto dan bermain di air terjun, kami pun kembali ke tenda untuk sarapan dan menyeduh kopi. Sarapan kali ini ditemani oleh smoke beef.

Seusai sarapan kami pun berkemas untuk kembali pulang ke Jakarta. Kali ini kami melewati jalur yang berbeda dari yang kemarin. Kamipun meneruskan perjalanan menuju selatan melewati berbagai macam tempat menarik seperti curug seribu, curug cigamea, curug ngumpet 1 dan 2, curug pangeran, dan kawah ratu. Sekitar tengah hari kami sudah sampai kembali di rumah.

Pemandangan yang indah dan banyaknya tempat menarik untuk dikunjungi serta nuansa alam yang masih asri menjadikan Kawasan Taman Nasional Gunung Halimun-Salak adalah tempat yang ideal untuk camping atau sekedar piknik bersama keluarga.

Summary:

Biaya murah, tempat parkir luas, banyak tempat menarik untuk dikunjungi, air melimpah, ada air terjun dan kolam berenang. Sayang masih ada pungli. Setiap masuk tempat wisata diharuskan membayar lagi. Selain itu kurang terjaga kebersihanya, kesadaran pengunjung masih kurang, sampah dikumpul untuk dibakar. Tempatnya yang pinggir jalan juga membuat kurang hening saat malam hari.

Rate : 7.5

Biaya :
Tiket masuk kawasan 25,000
Camping 45,000
Tol lingkar Luar 8,500 x 2 = 17,000
Tol Jagorawi 7,000 x 2 = 14,000
Tol lingkar bogor 5,500 x 2 = 11,000
Jajan 15,000
Belanja makanan 80,000
Bensin 100,000
Toilet (sepertinya pungli) 2,000 x 2 = 4,000

Total 311,000

Monday, January 19, 2015

Exile

Buku Foto "Exile"

Rosalia Indah Panggabean, biasa dikenal "Ocha", teman akrab istri saya sekaligus teman sma saya, 17 januari 2015 kemarin, ia meluncurkan buku foto-nya. Sebagai seorang teman kami turut bangga dan hadir dalam acara peluncuran dan diskusi buku barunya yang berjudul "Exile". Buku ini bercerita mengenai tertuduh PKI yang terasing di belanda yang tak bisa pulang ke tanah air terkait pergolakan politik di tahun 60an, saat orde lama digantikan oleh orde baru.

Kiri-kanan : Sari, Ocha, Ifa, Vita

Kumpul-kumpul setelah acara peluncuran dan diskusi buku foto "Exile"

Tulisan kali ini tidak akan mengulas tentang buku tersebut. Saya belum selesai membacanya. Namun saya akan berbagi mengenai ketertarikan saya trhadap tema buku foto ini.

Sari, salah seorang teman akrab istri saya juga yang sama-sama ikut menghadiri acara peluncuran dan diskusi buku "Exile"

Banyak yang datang ke acara tersebut, setidaknya lebih dari 50 orang memenuhi ruangan yang cukup sempit ini, sehingga untuk keluar ruangan sebentar saja pasti akan bertabrakan dengan beberapa lutut yang hadir. Ada fotografer, ada kurator, ada jurnalis, ada ahli sejarah dan lainya.

Para penggiat fotografi (fotografer, kurator, ataupun sekedar hobies seperti saya) melihat keindahan dalam segala hal. Kita mencoba mengabadikan keindahan tersebut dan berbagi dalam bentuk foto. Ada yg melihat keindahan pada wajah manusia, foto model, pada detil-detil kecil foto makro, pada keindahan maha karya alam foto landscape dan pada keindahan-keindahan lainnya. Namun esensi sesungguhnya dari sebuah foto bukanlah foto yang sekedar memberikan keindahan, namun foto yang dapat bercerita. Dan sebaik-baik nya cerita tak ada yang lebih menarik daripada cerita tentang kehidupan manusia.

Impian semua fotografer adalah menghasilkan suatu karya foto yang dapat menyentuh hati banyak orang. Sehingga mereka terinspirasi dan tergerak melakukan perubahan. Impian semua fotografer adalah menghasilkan foto yang dapat mengubah dunia menjadi lebih baik. Buku foto "Exile" menyentuh hati saya, walau mungkin saya tidak dapat mengubah dunia, tapi setidaknya foto-foto Ocha dalam bukunya telah mengubah cara pandang saya terhadap dunia.

Foto-foto:

Foto

Cover Depan

Cover belakang

Ocha Signature